Showing posts with label METODE PENANGKARAN. Show all posts
Showing posts with label METODE PENANGKARAN. Show all posts

Saturday, 26 May 2018

BREEDING SAAT CUACA PANCAROBA - Part 1

Sabar adalah hikmah.
Sabar adalah ikhtiar.
Sabar adalah bersyukur.

MB Tumenggung (MH Bahorok) begitu ditarik masuk ke penangkaran PB6 langsung bisa tune in dan beradaptasi mulus dengan suasana kandang besar.

Dari pengalaman menjodohkan Murai batu selama ini, untuk pejantan murai batu dengan karir bertahun-tahun sebagai gaco lapangan bahkan sampai  ke even lomba kicau tingkat nasional, biasanya punya karakter super fighter. Apalagi seperti Tumenggung ini yang ber- typical head to head - berhadapan langsung dengan lawan saat beradu pukul materi kicauan. Model preman begini biasanya lebih gampang dijodohkan bila diberi betina yang berpengalaman (Janda). Karena bisa dibayangkan ephoria birahi bercampur naluri teritorial yang tinggi saat bertemu lawan jenis pertama kalinya, betina lepas trotol bisa cuma jadi  sedekah Bumi nantinya.

Sesuai perkiraan, tak lama dijodohkan dengan betina senior ring Delta  Kuda Liar Jr (trah bahorok) langsung produk. Lancar beberapa sesi sampai kemudian hasil nya zonk selama 4 sesi berturut- turut (hampir 3 bulan) saat masuk cuaca pancaroba dari musim hujan menuju musim kemarau.

Terapi vitamin, mineral & penjemuran terus kami terapkan untuk pasangan ini dengan target menjaga kesehatan & stamina selama masa peralihan musim yang biasanya membawa penyakit bahkan kematian bagi indukan & trotolan. Penting Waras pokoke.

Alhamdulillah saat ini sudah mulai produksi lagi. Blom kesampaian dapat anak betinanya nih. Tumenggung sangat istimewa soalnya di Volume. Barang sedikit bisa angkat kualitas basic blood Ring Digdaya ke next level.

InsyaAllah

Tuesday, 2 December 2014

JEBOL KANDANG PASANGAN PRODUKTIF YANG TIDAK BERPRODUKSI DI TEMPAT BARU


Metode jebol kandang pasangan indukan produktif dari peternak top kerap dilakukan oleh peternak murai batu pemula. Pertimbangannya adalah untuk memperkecil resiko kegagalan dengan menggunakan pasangan indukan yang sudah terbukti bisa berproduksi bagus dan menghasilkan anakan yang juga bagus kualitasnya. Hasil yang diharapkan adalah modal bisa cepat kembali dari penjualan anakan yang indukan jebol kandang tersebut. Metode ini sudah banyak yang menerapkan dan cukup sukses dibeberapa kasus seperti harapan awal. Tapi banyak juga yang harus menunggu cukup lama dan bahkan ada yang gagal sehingga pasangan indukan hasil jebol kandang tersebut harus dibongkar untuk ganti pasangan agar bisa produksi lagi. Atau bahkan harus dijual untuk menutup kerugian disertai rasa kecewa yang dalam.

Mengacu pada pengalaman kami sendiri di Padepokan Bala6 dan penuturan beberapa rekan breeder yang lain, kegagalan produksi dari pasangan murai batu yang tadinya produktif bisa ditelusuri dari berbagai sisi. Ayo kita bahas satu-persatu.

  • Nutrisi:
    • Apakah menu makanan yang diterapkan di kandang baru sama dengan menu makanan di kandang lama? Misalnya tadinya makanan utama adalah jangkrik alam/sliring kemudian berubah menjadi jangkrik kalung/genggong. Atau tadinya menggunakan kroto kemudian diganti menjadi diganti menjadi cacing atau ulat hongkong.  
    • Vitamin dan suplemen yang digunakan apakah sama dengan suplemen yang di gunakan di tempat lama.
    • Apabila ternyata setingan pakan dan vitamin serta suplemen tidak berubah, maka yang patut dicurigai adalah status kesehatan, perubahan kondisi lingkungan kandang dan faktor psikologis
  • Fisik:
    • Perlu diperhatikan kesehatan dari pasangan indukan yang beradaptasi dilingkungan baru. Untuk peternak berpengalaman maka cukup melihat tanda-tanda fissik dan prilaku hariannya akan diketahui murai batu yang sakit atau stress. Pemeriksaan sederhana di dokter hewan mengenai komposisi darah putih pada burung akan menjawab secara meyakinkan apakah murai batu tersebut sakit atau sehat
    • Khusus murai batu betina, terkadang berhenti produksi apabila salah satu ekornya lepas. Dia akan mementingkan asupan gizi yang ada untuk melengkapi ekornya dibanding menghasilkan telur. Untuk murai jantan ekor yang jatuh tidak terlalu berpengaruh pada kemampuannya membuahi.
    • Apabila sampai tahap murai betina sudah bertelur dan mengerami tapi telur tidak menetas. Bisa jadi masalahnya berasal pada murai  jantan yang tidak mengawini betina sementara betina sudah pada siklus produksi telur secara rutin.
  • Lingkungan:
    • Biasanya begitu pindah ke lingkungan baru maka perlu waktu untuk adaptasi. Sering terjadi sampai mabung sekali baru bisa beradaptasi dengan sempurna. Lebih sederhana bila kedua indukan mabung bareng. Yang repot adalah begitu sampai salah satu mabung dan yang lain tidak dan begitu yang satu selesai, pasangannya baru mabung. Lumayan bisa buang waktu 6 sd 8 bulan sendiri sebelum mulai produktif lagi.
    • Kondisi lingkungan biasanya sangat berpengaruh pada mood jantan untuk kawin. Jantan yang tidak nyaman dengan kondisi kandangnya cendrung tidak fokus untuk kawin tapi lebih peduli pada teritorialnya. Akibat yang ekstrim bisa terjadi KDRT terhadap pasangan betinanya.
    • Paparan sinar dan panas matahari, kelembaban udara perlu dicek dan direkam sesuai keinginan si jantan. Beberapa kasus yang kami temui ada jantan yang lebih tenang dengan kandang yang temaram dan ada pula jantan yang lebih produktif dikandang dengan cahaya berlimpah.
    • Kelengkapan fasilitas kandang juga ikut menentukan. Seperti: luas dan tinggi kandang, letak tangkringan, letak glodak sarang dan fasilitas kolam tempat mandi akan mendukung minat jantan untuk bereproduksi karena biasanya si jantanlah yang lebih banyak berperan dalam menentukan kelayakan fasilitas untuk betina dan calon anaknya.
  • Psikologis:
    • Murai batu adalah hewan territorial. Gangguan berupa bunyi dari murai batu lain bisa menjadi masalah buat sifatnya yang fighter. Biasanya ditempat baru selain adaptasi secara fisik dan lingkungan baru murai batu jantan juga harus menghadapai tekanan tatanan sosial baru ditempat yang asing. Termasuk menjaga harga dirinya dihadapan pasangan betinanya.  Murai batu saling mengintimidasi lewat kicauannya dan seperti layaknya di hutan habitat aslinya, dalam satu  area kandang penangkaran ternyata ada hierarki sosial juga dan diantara banyak murai yang ada, kita bisa rasakan siapa penguasa wilayahnya.
    • Apalagi kalau sampai dari kandangnya si jantan bisa melihat murai batu jantan lain. Bisa mengacaukan ritme psikologis si jantan dan berpotensi menjadi masalah besar pada keselamatan si betina. 
Jadi solusinya apa? 
Solusinya adalah kesabaran dalam mengamati karakter, prilaku dan kebiasaan murai batu kita. Ingat dalam berusaha itu tidak ada sesuatu yang instan. Ketelitian diperlukan dalam menemukan akar masalah dan problem solving yang tepat. Setiap makhluk hidup butuh adaptasi untuk lingkungannya yang baru. Yang jelas dengan jebol kandang breeder papan atas setidaknya memang jalan pintas untuk mengangkat pamor breeder pemula, tapi harus di ingat bahwa kita berurusan dengan makhluk hidup jadi tetap harus dilengkapi dengan modal kesabaran dan terus menimba ilmu lagi dan lagi.

Pasangan indukan Ring Digdaya hasil jebol kandang. Perlu waktu selama 6 bulan sampai akhirnya si betina mabung dan diganti pasangan jantan baru kemudian berproduksi 6 bulan kemudian, atau hampir 1 tahun kemudian baru menghasilkan sejak dibelinya.


Thursday, 8 May 2014

METODE PENANGKARAN : INBREEDING



Inbreeding. Digdaya Bird Keeping sedang mencoba untuk mengkaji penerapan inbreeding di Padepokan Bala6. Selama ini kami sebagai penangkar murai batu sering ragu untuk mengambil sikap dalam soal Inbreeding. Keraguan itu bermula pada bagaimana untung dan rugi dari inbreeding itu sendiri ?  Sampai mana batasan boleh dan tidaknya? Bagaimana cara yang benar melakukannya? Sebelum menjawabnya kita harus mengerti dulu apakah itu inbreeding.


Dari beberapa referensi yang kami baca Inbreeding adalah sistem perjodohan dimana indukan diambil dari individu yang sedarah seketurunan atau perkawinan antar anggota kluarga. Tujuan Inbreeding adalah untuk memaksimalkan kelebihan satu atau beberapa karakter unggul dari suatu keluarga. Metode ini sudah di gunakan oleh banyak peternak burung unggulan dan burung juara di dunia breeding untuk meningkatkan kualitas burung hasil tangkaran mereka. Yang terjadi dalam inbreeding adalah ketika 2 burung sedarah ditangkarkan, genetika unggulan akan makin kuat (makin murni). Dilain sisi ada konsekwensi dari Inbreeding yaitu genetika kelemahannya juga akan makin kuat pula. Kelemahan yang yang dimaksud adalah: 
1. Menurunnya immunitas 
2. Menurunnya fertilitas 
3. Menurunnya daya adaptasi terhadap pengaruh cuaca.  
4. Postur tubuh yang cendrung mengecil 
5. Tingkat harapan hidup yang rendah 
6. Harapan usia yang memendek
7. Penyimpangan pada kondisi fisiologis (kondisi fisikal).


Dengan resiko degradasi pada beberapa kualitas alami diatas, sebelum berkomitmen untuk menempuh jalan ini, maka seorang breeder harus punya visi yang jelas mengenai apa yang menjadi tujuan dari Inbreeding. Beberapa cita-cita yang sempat saya rekam dalam inbreeding murai batu diantaranya yaitu: “ Menghasilkan murai batu unggulan dalam hal ekor yang makin panjang dari indukan masternya dengan peningkatan kualitas pada volume suara“ atau “Mengasilkan muraibatu unggulan dengan karakter fighter nagen disatu titik dengan gaya main sujud/dlosor/hormat juri yang konsisten” dsb.  

Untuk mencapai cita-cita murai batu ideal sesuai tujuan inbreeding yang sudah ditetapkan diawal tersebut, seorang breeder harus sudah tahu dengan mendalam mengenai karakteristik burung ideal idamannya. Beberapa karakter penting tersebut adalah: postur dan ukuran tubuh (katurangga), warna, gaya dan suara (untuk burung kicau.) Breeder juga harus punya mata yang tajam bukan hanya untuk menilai katurangga saja tapi juga dalam mengenali potensi individu burung untuk ditangkarkan begitu dia melihat burung tersebut. 

Jadi syarat utama yang sangat mendasar  untuk melakukan Inbreeding adalah breeder harus punya Indukan awal yang memenuhi syarat secara kualitas (SUPERIOR) dalam genetikanya. Dan juga menunjang secara kuantitasnya, agar bisa didapat pola inbreeding yang memenuhi syarat variasi genetiknya. Breeder juga harus memahami bahwa Inbreeding bukanlah berhenti pada tujuan menghasilkan individu burung yang sama dengan indukan master tapi untuk meningkatkan kelebihan karakteristik indukan master tersebut pada burung keturunannya.

Perlu dipahami juga, bahwa dalam proses menciptakan trah galur murni murai batu unggulan lewat jalur inbreeding akan memakan waktu yang cukup lama untuk melihat hasil akhirnya.


Step by Step Inbreeding sbb:
Step 1. Out Breeding Poligami : Jantan Master x Betina 1, Betina 2, Betina 3 dst
Begitu Breeder memasangkan pejantan dengan 1 atau beberapa betina (sebaiknya poligami), dia harus mencatat, mengamati perkembangan atas genetika unggulan yang menjadi incarannya sampai individu yang dihasilkan tersebut dirasa cukup matang/dewasa untuk dievaluasi dan diseleksi atas yang terunggul dan menyisihkan yang kurang maksimal.
Step 2. In Breeding :Antar Saudara Tiri : F1 dari Betina 1 x F1 dari Betina 2 / Betina 3 dst
Individu hasil dari pasangan-pasangan di step 2 ini juga perlu di seleksi saat dewasa
Step 3. Line Breeding Kakek/Nenek dengan Cucu : F2 dari step 2 x Jantan Master / Betina Master
Biasanya individu hasil step 3 ini akan menghasilkan individu yang karakteristik unggulan yang melebihi Indukan Master.

Setelah didapat kestabilan pada karakter unggulan yang menjadi tujuan awal inbreeding pada kombinasi beberapa pasangan di level F3 ini, akan lebih mudah untuk menjaga kualitas unggul dari trah kluarga ini. Bisa dicoba beberapa variasi pasangan lain seperti : Paman x Keponakan, antar saudara sepupu dan sebagainya. Ingatlah selalu untuk mencatat dan menghimpun informasi secara detail dan terstruktur agar tidak terjadi kebingungan yang menyesatkan dikemudian hari. 


Setelah beberapa generasi ada masanya untuk meyilangkan anggota keluarga ini dengan dengan individu dari luar atau disebut sebagai cross breeding. Kenapa? Karena individu generasi terakhir pada kluarga inbreeding, selain genetika unggul yang makin murni dan menguat, maka genetika kelemahannya juga makin tebal. Sehingga perlu disuntikkan genetika dari keluarga lain sebagai pengisi/penutup lubang kelemahan yang tercipta dari metode Inbreeding.


Jangan memasangkan jantan dan betina yang menetas dari satu tarangan sarang (saudara kandung).


Pasangan saudara kandung ini memiliki kesamaan genetika yang terlalu dekat. Bisa memperkuat secara langsung genetika kelemahan indukan asal. Sering terjadi penyimpangan bentuk tubuh yang radikal. Untuk itu poligami indukan master sangat dianjurkan dalam inbreeding. Pola Inbreeding saudara kandung Ini sering diterapkan pada breeding ayam serama.

Hasil akhir yang sebenarnya sangat diharapkan oleh semua breeder adalah apabila pada satu titik level breeding tertentu didapatkan individu-individu “Copy Machine”. Artinya didapatkan individu yang apabila dipasangkan dengan jantan/betina asal mana saja akan menghasilkan  keturunan dengan sifat unggul yang stabil dan persis mendekati indukannya. Indukan “nyetak” seperti ini disebut sebagai indukan Pre-Potency. Bagi seorang Breeder, Pre-Potency inilah karakteristik terpenting yang harus dipunyai dari seekor burung. Sayangnya individu seperti ini sangat langka di dunia breeding burung. 


Bagaimanapun, Inbreeding adalah salah satu metode penting dalam metode pemuliaan genetik burung.  Pilihan untuk menggunakannya tergantung pada ambisi dan tujuan penangkaran seorang breeder dan pertimbangan atas resiko yang sudah diprediksi sebelumnya. DBK PB6 sedang mempertimbangkan metode ini untuk diterapkan pada breeding MB ekor panjang.

Untuk metode Inbreeding DBK PB6 saat ini baru berada pada tahap awal di Step 1 dengan program poligami untuk jantan Young Gun (25 cm) dan Jantan Gurkha (25 cm) dengan beberapa betina trah ekor panjang.

Pasangan i. YG x  F2 SSko ii. YG x TN237  iii. YG x Karbalas
Saat ini sudah dihasilkan 2 betina F1i 

Young Gun (25cm) adalah F1 dari MB master bernama X-Urang (26.5cm) saat ini sedang berada dalam jalur poligami inbreeding dengan 2 betina anakan dari MB bernama Tanpa Nama yang juga F1 dari MB X-Urang.
Jadi pola inbreeding yang digunakan adalah F1 x F2 : Paman vs Keponakan.
Line Breeding antara Young Gun dengan Digdaya YG 01 anaknya

Artikel diatas disadur dan diterjemahkan secara bebas dengan intepretasi sendiri dari artikel berjudul :
Inbreeding - To Do or Not To Do? By Willie Wilsson C. Nepomuceno
http://www.thehouseofpetsvetclinic.com/inbreedinginbirds.htm

Saturday, 18 January 2014

METODE PENANGKARAN : POLIGAMI

Definisi poligami pada burung adalah prilaku perkawinan seekor burung dengan beberapa burung ekor lain jenis kelamin dalam satu musim perkembangbiakan (breeding season). Poligami dalam dunia burung terjadi dalam dua bentuk: Polygyny – satu jantan dengan beberapa pasangan betina dan Polyandry – satu betina dengan beberapa pasangan jantan. Poligyny inilah yang sering terjadi sehingga polygyny kemudian menjadi identik dengan terminologi Polygamy pada dunia breeding burung.

Sebenarnya dialam liar prilaku poligami sudah sangat umum terjadi didunia burung  dengan derajat prilaku yang bervariasi. Dari yang ekstrim dimana 1 jantan mempunyai 5 betina atau lebih sampai yang moderat yang terjadi bilamana perlu saja. Poligami terjadi secara alami, mengingat kondisi topografi dan kondisi habitat setempat dan waktu berkembang biak yang sempit. Ini terkait terkait dengan cuaca dan ketersediaan pakan yang ada, sehingga poligami menjadi keharusan untuk dilakukan dengan tujuan meningkatkan derajat keberhasilan hidup generasi selanjutnya. Dari hasil penelitian yang lebih spesifik lagi, fenomena poligami pada burung ternyata lebih terkait dengan wilayah kekuasaan burung jantan. Murai batu dikenal dengan karakter khususnya dalam penguasaan teritorial. Dan didalam dunia murai batu ternyata ada strata sosial. Dimana dalam suatu wilayah hutan ada satu ekor murai jantan dominan yang berstatus sebagai raja dan beberapa murai batu jantan dengan hierarki dibawahnya ibarat panglima dan mentrinya serta murai batu dengan strata sosial rakyat biasa. Dalam hal pemilihan pasangan murai betina akan cendrung memilih murai batu jantan dengan wilayah terluas dan terkaya sumber pakan alaminya, walaupun jantan tersebut sudah memiliki pasangan. Seperti sudah kita pahami bersama, bahwa perawatan piyik biasanya dilakukan oleh indukan betina, sehingga calon ibu secara naluriah akan melakukan audit potensi ketersediaan pakan dari suatu wilayah dan kawin dengan jantan penguasa wilayah tersebut. Pada Murai batu, pelaku poligami biasanya adalah murai batu “bicok” atau sang penguasa wilayah terbesar dan tersubur dari suatu habitat hutan. Biasanya si bicok ini mempunyai satu betina utama sebagai permaisuri dengan satu atau beberapa betina lain sebagai selir tersebar di wilayah kekuasaannya.Untuk masa sekarang dimana kondisi habitat asli murai batu di wilayah hutan alam sekunder semakin menyempit karena alih fungsi lahan, fenomena poligami ini menjadi makin banyak ditemukan dialam. Dan mungkin akan mencapai tingkat yang paling ekstrim pada sex ratio (jantan : betina) nya. Ini juga karena penangkapan murai batu jantan yang makin intensif. 
Grafik Polygyny Threshold Model (PTM) diatas memperlihatkan korelasi antara derajat kualitas hidup murai batu betina dengan kualitas teritorial murai batu jantan dan kaitannya dengan pilihan betina untuk bersedia di poligami atau tidak.
A vs B - Pada kondisi teritorial yang sama kualitasnya.  Murai batu betina akan memilih monogami  dengan jantan A yang single dibandingkan di poligami oleh jantan B yang sudah mempunyai pasangan.
A vs C - Pada kondisi teritorial yang berbeda tipis kualitasnya.  Murai batu betina bisa mempunyai pilihan antara memilih monogami  dengan jantan A yang single atau di poligami oleh jantan C yang sudah mempunyai pasangan. 
A vs D - Pada kondisi teritorial yang berbeda jauh kualitasnya.  Murai batu betina akan memilih di poligami oleh jantan D yang sudah mempunyai pasangan tapi dengan kualitas teritorial yang lebih kondusif daripada monogami  dengan jantan A yang single tapi dengan kualitas teritorial yang jauh lebih rendah. 

Di dunia breeding MB, Sebenarnya banyak manfaat yang bisa diperoleh bagi penangkaran murai batu dengan sistem Poligami ini. Yang pasti manfaat utama adalah dari sisi modal indukan yang lebih ekonomis karena bisa berhemat uang untuk investasi indukan jantan yang harganya relatif lebih bahal dibanding indukan betina. Ada 3 metode poligami  yang biasa digunakan :
1. Metode kawin - cabut, dimana jantan digilir pindahkan dari satu kandang betina ke kandang betina yang lain. Caranya adalah dengan menangkap jantan begitu betina 1 mulai mengeram untuk dipindahkan ke kandang betina 2. Atau sudah dibuatkan pintu khusus antar kandang agar jantan dapat berpindah kandang dengan sendirinya begitu pintu tersebut dibuka.
Di Padepokan Bala6 poligami Kawin-Cabut diterapkan untuk indukan Jantan Ekor Panjang Young Gun dan Gurkha dengan beberapa betina trah ekor panjang

2. Metode harem, dimana dalam satu kandang ditempatkan 1 jantan dengan 2 atau lebih betina. Syarat utama dari metode ini adalah betina satu dengan lainnya sudah jinak dan akrab satu sama lainnya. Ukuran kandang juga harus lebih luas dan kotak sarang yang ada harus diberikan melebihi jumlah betina yang ada sehingga betina bisa punya pilihan lebih dari 1 sarang tidak akan berebut sarang satu dengan lainnya.
Poligami metode harem 2 in 1 pernah dilakukan di Padepokan Bala6

 2. Metode Casanova, dimana dalam apabila dalam metode harem semua betina dalam satu ruangan harem mengeram dalam satu waktu , jantan bisa dicabut untuk dijodohkan di ruangan harem yang lain. Harus tetap bekerja tidak boleh dibiarkan menganggur barang sesaat. Super sekali dalam melakukan efisiensi

Adakah efek dari breeding dengan metode poligami ?


Dari penelitian terakhir pada dunia hewan, pada sistem poligami tingkat harapan hidup pada anakan jantan lebih rendah dari pada anakan betina. Sementara pada sistem monogami tingkat harapan hidupnya sama besarnya.

Grafik sebaran derajat harapan hidup pada burung dan mamalia dengan sistem kawin monogami vs poligami
Dari info beberapa breeder yang sudah menempuh metode poligami dengan intensif, biasanya murai jantan yang melakukan praktek poligami akan lebih cepat siklus mabung kembalinya. Yang normalnya ganti bulu setiap 12 bulan misalnya bisa menjadi siklus 6 - 10  bulan sekali. Tapi yang dialami oleh om Didiks RRBF pada sistem poligami dengan pejantan Raja Rencong, Pejantan ini tetap mabung normal dengan siklus 1 tahun lebih. Untuk siklus ganti bulu ini mungkin lebih terkait dengan pola diet (pakan), paparan sinar matahari, luas kandang penangkaran dan secara khusus metabolisme dan daya adaptasi individu masing-masing murai batu.