Showing posts with label STUDI KASUS. Show all posts
Showing posts with label STUDI KASUS. Show all posts

Sunday, 3 June 2018

STUDI KASUS 6 : POLA EKOR DOMINAN PADA MURAI BATU


Berikut ini adalah hasil Praktikum pola ekor.

Jantan :
Soldier (Sabang b6) Ring RRBF trah Mr.A

Betina :
Rocky Jr trah ;
Jantan : Rocky (Nias) x Betina Reog Jr (bahorok) ------> B6

Sesi Awal 2 telur netas semua alhamdulillah.
Dengan hasil pengamatan ekor trotol
Trotol Jantan : Pola Medan 4 ekor putih
Trotol betina : Pola ekor B6 Sabang (Kotor).

Kesimpulan :
Makin memperkuat hipotesa Awal bahwa dari segi genetika Pola ekor paling dominan urutannya adalah :
1. WT (White Tail)
2. BT (Black tail)
3. B6
Masih dugaan saja. Perjalanan masih panjang.

Masih Ada pasangan balak yang sedang kami tangkarkan. Kemungkinan hasilnya lebih Murni balaknya. Murai Batu asli Sabang balak 4 bernama F4ntastic dengan murai batu betina balak 6 hasil  silangan pejantan Sabang balak 8 bernama KuDeTa dengan betina balak 4 hasil silangan pejantan black tail dengan betina medan.

Menarik untuk ditunggu pola ekor anakannya nanti. Untuk menambah referensi breeding.

Monday, 16 March 2015

STUDI KASUS 4 : WAKTU YANG TEPAT UNTUK MULAI DIBAWA KE LOMBA KICAU

Kali ini saya akan membahas mengenai fenomena yang terjadi pada anakan Indukan BALROCK. Bukan pada karakter atau fisiknya, tapi pada kedisiplinan dan komitmen para juragan pemiliknya. Pasalnya pada setiap teman Kicau Mania pecinta murai batu yang datang dan meminang trotolan Ring Digdaya, saya selalu menghimbau agar nantinya sabar menunggu sampai mabung ke 2 dewasa sebelum MB ring Digdaya tersebut dibawa ke arena lomba kicau. Pada kenyataannya mayoritas juragan terutama yang tergolong pemula sudah gatal dan mulai menggantang murai batu tersebut pada usia dini, ABG saja belum yaitu pada usia lepas trotol di kisaran umur 7 - 12 bulan. Buat saya pribadi sebagai breeder jika murai belia alumni Padepokan Bala6 tersebut memang layak meraih piagam prestasi pastinya ikut senang dan bangga. Tapi kalau belum maksimal ya mau bagaimana lagi, memang sudah wajarnya seperti itu.
 Balrock , MB Sabang Bala6 Blorok
Kita sudah sama- sama tahu bahwa untuk mencapai kematangan tertentu pada individu murai batu jantan bisa berbeda-beda waktunya karena dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Untuk tujuan lomba, beberapa senior player murai batu berpendapat bahwa kesempurnaan performa suara seekor murai batu jantan umumnya terjadi setelah masa mabung ketiganya, atau umurnya memasuki tahun keempat. Pada usia ini volume sudah bulat dan karakter suaranya sudah matang, amunisi lagu isian sudah beragam, dan yang terpenting sudah dewasa secara mental tanding dan naluri teritorialnya. Secara pribadi saya mengamati bahwa gaco asal muda hutan yang dibawa player Sumatera rata-rata punya usia diatas 5 tahun saat dibawa ke even regional dan nasional. Contoh yang paling ketara adalah SI KUSUT dan HAPPY BIRTHDAY yang menurut informasi mulai berprestasi gemilang diusia diatas 5 tahun. Tidak heran kalau jawara-jawara Sumatera punya performance relatif stabil di gantangan dan sangat bisa diandalkan untuk meraih prestasi di tingkat regional dan nasional. Untuk Murai batu Ring saya sangat mengagumi murai batu PUSAKA besutan master Andri Asmari yang sampai saat inipun diusia diatas 10 tahun masih stabil saat digantangkan.


Murai batu PUSAKA jawara asal Parisj van Java 

Kembali ke topik awal, entah kenapa khusus anakan Balrock, para pemiliknya seolah sepakat untuk sabar dan menahan diri sampai murai belia ini selesai mabung dewasa keduanya sebagaimana saran saya. Saya sendiri sebagai breeder pemula sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk menjadi saksi apabila teori kematangan usia gantang murai batu ini nantinya terbukti atau tidak, dan apabila memang terbukti, seberapa besar persentasi keberhasilannya. Pembuktian yang tentunya memerlukan waktu cukup panjang sampai ke rentang 5 tahun kedepan. Tapi setidaknya sudah ada modal awal dan jumlah sample yang cukup sebagai validitas riset sederhana ini.  Semoga sampai rejeki dan umur kita semua. Aamiin. 

DIGDAYA BAL 02 besutan om Sophian Handiana - Cikarang, Jawa Barat, Mulai Naik gantangan lomba kicau lokal di usia 20 bulan.
 
 DIGDAYA BAL 03 rawatan om Eswar Risaman - Pamulang Tangerang Selatan, Banten


 DIGDAYA BAL 06 harapan om David Wijaya - Bandung, Jawa Barat

DIGDAYA BAL 07 kepunyaan om Effendi  - Surabaya, Jawa Timur 

DIGDAYA BAL 11 klangenan  senior breeder om Soegiyarno, Giek BF - Cepu Blora, Jawa Tengah

DIGDAYA BAL 13 nyantren pada master player Mr. Harjo -  Cipete Tangerang, Banten

Saturday, 8 November 2014

STUDI KASUS 3 : POLIANDRI RISET GENETIKA BUNYI


Punya penangkaran MB sebenarnya lumayan banyak menuntaskan obsesi yang terpendam. Salah satunya keinginan untuk riset-riset sederhana. Kali ini yang menjadi objek yang menarik adalah mengenai mitos bahwa volume diturunkan secara genetis dari indukan betina.

 


Sesi Riset awal adalah terhadap Pejantan Nakula dengan level volume rata-rata dengan May Lady betina hasil tangkaran MR.Delta dengan volume tembakan terbaik di tempat kami (Studi Kasus 2). Dari pasangan ini dihasilkan beberapa anakan yang menunjukkan karakteristik volume yang juga kencang mewarisi sang bunda bahkan sudah terlihat sejak masa trotolnya. Salah Satunya Digdaya NKL 05 dengan nama lapangan Sendhekolo yang sudah mulai banyak menuai piagam lomba di usia lepas mabung pertamanya.Fakta ini belum bisa di jadikan referensi karena belum ada pembanding sebagai fungsi kontrol hasil. Si betina keburu mati sakit saat di jodohkan dengan Voldie, pejantan Nias dengan volume terbaik di tangkaran kami. 
Masih penasaran kebetulan saya punya 2 Jantan ekor panjang dengan karakter volume yang berbeda. Berusia sepadan sekitar 4-5 tahun dan sama-sama hasil tangkaran dan sama-sama berbody jumbo.
Young Gun (Ring Amiexs) punya volume super kencang dengan karakter ngebas sementara  Gurkha (F1 Sasongko) punya volume lebih tipis dengan karakter nyelekit. Keduanya bergantian di Padepokan Bala6 dikawinkan dengan 1 betina yang juga hasil tangkaran yang secara katurangga sangat ideal kesukaan saya yaitu



Ferlina (F2 Sasongko). Ferlina tidak Gacor tapi bongsor dengan level volume diatas rata-rata mendekati May Lady.Tidak banyak anakan yang dihasilkan. Setiap Pejantan diwakili oleh 1 anakannya saja yang jantan yang sengaja tidak kami jual untuk bahan riset. Dari pantauan yang kami lakukan sejak trotol terhadap Young Gun jr dan Gurkha jr volume mereka sama kencangnya dan terus konsisten sampai kondisi lepas trotolnya. Sampai sini apakah mitos itu sudah terbukti? Sementara mungkin.

Menarik juga bila saya perhatikan Gurkha Jr punya keunggulan daripada Young Gun Jr. Ini karena volume kencang dari ibunya berpadu dengan karakter nyelekit menekan dari bapaknya. Apakah Karakter suara ini secara genetis diturunkan dari indukan jantan? Belum bisa dijawab sekarang, harus dibuktikan dengan riset selanjutnya. Fakta lain yang juga perlu ditelusuri lebih dalam adalah apakah kecerdasan diturunkan dari genetika jantan? Menjadi menarik karena Young Gun Jr mewarisi kecerdasan ayahnya sementara seperti ayahnya Gurkha , DenPram (Gurkha Jr) varian isiannya tidak selengkap saudara tirinya, walaupun dibawakan dengan sangat faseh dan bening sekali isian LB, Cililin dan kapas tembaknya.



Selanjutnya sebagai kontra pembuktian kami akan mencoba riset dengan beberapa indukan Jantan yang kencang volumenya dipasangkan dengan betina dengan volume tipis. Baru-baru ini ada masukan dari teman breeder yang mengungkapkan bahwa beliau punya pejantan bervolume dahsyat yang dikawinkan dengan betina volume suara tipis, penuturan beliau hasil anakannya volumenya biasa saja tidak istimewa.  another little step further.

Monday, 30 September 2013

STUDI KASUS 2 : Jantan LEMPUYANG vs MEDAN Betina

Pasangan Indukan di Padepokan Bala6 yang juga sudah mempunyai anakan yang lumayan jumlahnya untuk diamati adalah Jantan Nakula vs Betina May Lady. Nakula berpostur besar berekor panjang 22cm dengan pola Balak 6 sementara May Lady adalah representasi yang sempurna dari MB Medan dengan postur dan pola ekor yang memenuhi kriteria MB Sumatra pada umumnya. May Lady sendiri adalah MB hasil tangkaran MB Medan vs MB Medan trah DELTA Sidoarjo dengan ekor 11-12cm
Dari pasangan diatas dihasilkan 5 anakan yang hidup sampai besar dengan komposisi 4 jantan dan 1 betina. Dari postur anakan jantan, rata-rata ikut bapaknya dengan karakter diwarisi dari indukan jantannya ; sorot mata tajam, gerakan lincah dan cendrung NAGEN menguasai tangkringan atas. Khusus anakan betina satu-satunya sangat mirip dengan indukan betina yang posturnya sedang proporsional, berbadan keabuan (klawu) dan berwajah "cantik". Dan ternyata Volumenya mewarisi ibunya juga Alhamdulillah.
 ZiZi akan menjadi basic blood Tangkaran Ring Digdaya di Padepokan Bala6 Jakarta

Untuk ekor, dari referensi pemilik DIGDAYA NKL diketahui kisaran 17-20cm untuk jantan lepas trotol dan 12 cm untuk betinanya. Berpola ekor BALAK 8 atau Balak 6 seperti Nakula + 2 putih di sepasang helai ekor penyangga terakhir. Pola ini konsisten terjadi pada semua anakan pasangan ini yang kebetulan waktu itu di tangkarkan oleh om Imam Iswahyudi di Harapan Indah Bekasi Barat,  sehingga mendapatkan kehormatan untuk disematkan ring ganda YAQISA BF di kaki kanan dan DIGDAYA NKL di kaki kiri.Artinya indukan jantan dan betina saling berbagi pengaruh genetiknya menjadi berpola ekor Sumatera dengan 4 saf ekor putih tapi dengan diameter yang lebih kecil sebagaimana layaknya spot putih pada MB Sabang/Lempuyang. Kondisinya rapi dan simetris tidak seperti silangan MB Medan/Balak dengan MB Nias.
COMANDO - Koleksi dari mas Adi Adra Wicaksono - Sawangan Depok.

Untuk volume, sementara terpantau di NKL 001 dan NKL 003 dan NKL 005 cendrung mengikuti indukan betina May Lady yang sangat tembus dan bahkan dengan level diatas volume dari indukan Nakula sendiri yang sudah tergolong tinggi. Memang keistimewaan betina trah DELTA adalah di volumenya yang bagus.

Semoga kedepan anakan Nakula dan May Lady yang cuma 5 ekor ini bisa menunjukkan performa yag memuaskan di gantangan lomba ataupun didalam tangkaran menjadi indukan yang berkualitas.
NKL 003 yang belum diberi nama sampai nanti dapat piagam lomba pertama. Koleksi dari om Rizal - Grand Depok City.

Sejauh ini NKL 03 dan NKL 05 menunjukan performa yang bagus sekali di usia lepas trotolnya. NKL 03 dilaporkan sudah terlihat menonjol saat ditrek dengan MB mapan dan MB ring kondang lainnya dari sisi volume, materi isian dan karakter fighternya. Sementara NKL 05 yang sejak trotol menonjol bakatnya berbakat saat ini masih sudah menjadi pelapis gaco utama oleh juragannya dan mulai mendulang prestasi di arena lomba kicau.

Saat ini Nakula akan kami pasangkan dengan betina Trah Sukhothai (MB Thailand vs MB Medan). Agak Unik MB jantan ini karena ternyata Nakula hanya mau dengan MB betina yang Klawu (warna bulu tubuh ke abu-abuan), beberapa kali kami coba jodohkan dengan MB betina balak ternyata cuma sekedar diterima saja (akur) tanpa mau dikawin.


Karakteristik jodoh barunya ini - Dolce Vita - adalah berbody bongsor, bermental baja seperti ibu bapaknya dan punya volume yang lumayan keras untuk ukuran MB betina. Sampai bulan September 2014 baru berjalan 2 sesi angrem dimana cuma dihasilkan 1 anakan saja dari total 10 telur yang dihasilkan. Semoga disesi ke 3 dan yang seterusnya daya tetasnya bisa meningkat. Yang diharapkan dari pasangan ini adalah anakan yang berpostur besar berekor medium (l.k 20 cm) dengan mental baja dan volume yang tembus. Soal pola ekor balak atau medan terserah Tuhan Yang Maha Kuasa saja

Obsesi selanjutnya, semoga rejekinya panjang, Nakula ingin kami jodohkan dengan anaknya sendiri (Digdaya NKL 04) sebagai salah satu bahan riset Line Breeding dengan tujuan memperkuat genetika MB Lempuyang di Padepokan Bala6 jakarta.


Friday, 13 September 2013

STUDI KASUS 1 : Jantan BALAK 6 vs NIAS BT Betina

Berikut ini adalah pengamatan pola ekor pada persilangan antara indukan jantan bernama ANGGADA dengan indukan betina bernama BETIBOO
ANG 001 & ANG 002 berasal dari sesi netas ke 1
ANG 003 berasal dari sesi netas ke 2 (tidak ditampilkan pada gambar diatas)
ANG 004 berasal dari sesi netas ke 3
ANG 005 & ANG 006 berasal dari sesi netas ke 4

Terlihat bahwa di sesi awal (ke 1) pola ekor dari jantan Anggada (balak 6) mendominasi pola ekor trotolan. Sementara pada sesi tengah (ke 3) dominasi pola ekor balak makin kecil spot putihnya.  Pada sesi terakhir (sesi 4) pola ekor trotolan cendrung mengikuti pada pola ekor betina Betiboo (Nias - ekor hitam).

Ada pergiliran genetik pola ekor, dimana  disesi awal ikut gen jantan dan pada sesi akhir ikut gen betina dan galau di sesi tengah. Apakah pola perubahan ini akan berulang atau sebaliknya akan tetap hitam seterusnya mengikut induk betinanya?

Yang jelas karakter ANGGADA sangat kental mewarnai prilaku setiap anakannya ; rajin ngeplay, mental baja tidak takut pada orang walau dari jarak dekat menempel pada ruji kandang, suka mengangkat ekor tegak lurus keatas, rajin bunyi sejak umur 20-25 hari saat sudah bisa makan sendiri, agresif saat diberi pakan.

Fakta ini mungkin bisa menjadi modal kami untuk lebih mendalami teori yang menyatakan bahwa Induk Jantan menurunkan karakter pada trotolan sementara induk betina menurunkan volume dan irama.  


Pada sesi 7 menetas 2 anakan. 1 ekor jantan yang hidup,DIGDAYA ANG 08 berpola ekor Balak 6. Pada sesi 8 terjadi pola Criss Cross yang nyaris sempurna pada anakan Anggada dan Betiboo. Seperti terlihat pada gambar diatas 2  ekor anakan jantan berekor hitam seperti induk betina dan 1 ekor anakan betina berpola ekor balak mengikuti sang induk jantan.


Penampakan lepas trotol dari ekor DIGDAYA ANG 08. Lumayan elegan dan rapi pola ekor balaknya

Penampakan lepas trotol dari DIGDAYA ANG 04. Saat ini dalam asuhan sahabat KOMBAT di Bandung. 

Secara umum keturunan dari pasangan ini mewarisi karakter dari induk jantannya yang bermental baja dengan gaya main yang mirip induk jantannya; agresif dan ngeplay aktif.

Karakter suara cendrung kristal dengan dominasi ngerol nembak. Volume terpantau sedikit diatas rata - rata, termasuk anakan betina Anggada yang selama dalam pengamatan kami di Padepokan Bala6 bisa dibilang sangat memenuhi kriteria sebagai generasi penerus indukan ring DIGDAYA.

Pada beberapa sesi selanjutnya pasangan Anggada - Betiboo menurun produktivitasnya. yang rata-rata netas 3 dari 3 telur menjadi hanya netas 2 atau 1 anakan dari 3 telur. Sering yang netaspun mengalami kematian karena berbagai sebab terutama karena periode cuaca. pancaroba. dalam 5 periode cuma dihasilkan 2 anakan betina yang keduanya menunjukkan kecendrungan pola ekor balak yang solid.

Dari beberapa laporan yang masuk, beberapa anakan anggada sudah ada yang mulai bisa di lombakan. Diantaranya ANG 10 yang diberi nama Kremlin oleh juragannya.

kita nantikan laporan prestasi berikutnya dari keturunan pasangan ini.
 

Masuk September 2014, Anggada dan betinanya kami tarik dari tangkaran karena bulunya sudah hancur tapi belum juga mau mabung. Begitu kami masukan kandang soliter mereka langsung ambrol bulunya. Sementara istirahat dulu setelah hampir 2 tahun dikandang breeding dengan total produksi anakan hidup 14 ekor dari lebih dari 30 anakan yang sempat menetas. Alhamdulillah sangat produktif.