Friday, 20 March 2015

PART 1 : TRAH JAWARA, APAKAH ADA PENGARUHNYA?

Urusan makhluk hidup memang besar derajat ketidak pastiannya. Tapi sudah menjadi aturan alam  (sunatullah) bahwa setiap makhluk berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas jenisnya karena didorong oleh naluri untuk bertahan hidup. Inilah yang terjadi secara naluriah dan terjadi lewat seleksi alam dan proses evolusi. Manusia sebagai makhluk utama di bumi juga sama halnya, tapi dengan cakupan yang lebih luas lagi karena melibatkan banyak komponen alam lainnya seperti lingkungan, hewan dan tanaman yang menjadi obyek hajat hidup manusia. Manusia menjadi penentu atas kriteria yang disebut sebagai kualitas unggulan. Jadi manusialah yang melakukukan seleksi atas hewan dan tumbuhan budidaya. Bangsa Babylonia ( 6000 Tahun lalu ), telah menyusun silsilah kuda untuk memperbaiki keturunannya. Bangsa China (beberapa abad SM) telah melakukan seleksi terhadap benih-benih padi untuk mencari sifat unggul tanaman itu. Di Amerika dan Eropa ( ribuan tahun lalu ), orang telah melakukan seleksi dan penyerbukan silang terhadap gandum dan jagung yang asalnya adalah rumput liar.

Sebagaimana halnya Murai Batu, awal mula sekali semua indukan berasal dari tangkapan hutan sebagai habitat asli alam liarnya. Murai batu hutan inilah yang kemudian disebut sebagai "bahan". Bahan ini yang awalnya hanya untuk dinikmati secara pribadi kemudian berkembang menjadi koleksi yang tersegmentasi menurut tujuannya; sebagai murai batu pajangan (collectible item) atau murai batu lapangan (championship item) untuk diadu dengan sesama MB hutan. Dari sinilah kemudian dirumuskan tentang kriteria tentang murai seperti apa yang layak disebut sebagai murai unggulan. "Murai Unggulan" inilah yang kemudian menjadi jawara di lomba kicau. Secara khusus yang disebut UNGGULAN dalam lomba kicau di Indonesia sangat mementingkan kualitas kicauan burung yang meliputi kriteria dasar pada 1. Irama dan materi lagu 2. Volume/karakter suara 3. Durasi kerja/stamina 4. Gaya main.

Menurut saya pribadi, kriteria 1 dan 2 diatas terkait dengan bakat individu dari masing-masing burung. Kekayaan materi lagu didasari oleh tingkat kecerdasannya. Sementara volume serta karakter suara juga sesuatu yang sudah nempel dari sonohnya meminjam istilah orang Jakarte. Sementara durasi dan gaya main lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan tingkat ilmu rawatan sang perawat. Jadi bakat inilah yang menjadi dasar yang menentukan sejauh mana potensi individual MB bisa dimaksimalkan. Karena itulah makanya pejantan unggulan sering dikonotasikan langsung dengan pejantan jawara lomba, karena si jawara ini sudah terbukti mempunyai keunggulan yang terukur dari murai batu lain pesaingnya menurut kriteria yang sudah disepakati secara umum dikalangan lomba kicau. Yang diharapkan dari penangkaran MB jawara ini adalah genetika unggulannya bisa dilestarikan dan diwariskan sebagai bakat terpendam pada keturunannya nanti.

Proses penangkaran yang baik belum tentu hasilnya baik, tetapi setidaknya bisa diharapkan. Sebaliknya jika proses beternak yang sekedarnya, maka akan sangat bergantung pada faktor kebetulan dan keberuntungan saja. Proses berternak yang baik meliputi banyak hal seperti proses seleksi indukan, metode perjodohan,  padu padan karakteristik indukan, fasilitas kandang, pengontrolan lingkungan kandang, setingan pakan, pemilihan supplemen danobat-obatan, tata laksana panen dan pasca panen, proses pembesaran, proses pemasteran dasar serta proses penyortiran kualitas fisik dan mental anakan. Cukup panjang dan berjenjang.

Untuk orientasi penangkaran Murai Batu dengan tujuan pada kualitas lomba kicau, Pacek/Pejantan Jawara/Unggulan biasanya mempunyai kelebihan atau keistimewaan yang menonjol. Dan ini bisa di cek secara kasat mata dengan melihat dari banyaknya piagam penghargaan yang sudah pernah diraih atau langsung memantau kinerjanya diarena lomba. Untuk pemain yang berpengalaman biasanya lebih mengandalkan keahliannya dalam melihat pada katurangga (ciri fisik tertentu). katurangga akan mencerminkan kriteria unggulan pada level volume suara, karakter suara, kecerdasan, gaya main dan mental si MB. Sementara lagu dan materi isian,  dan daya tahan/durasi, kengototan akan terpantau langsung saat MB tersebut in action. Faktor panjang ekor, pola ekor, asal habitat dan kelangkaan adalah sebuah nilai tambah . Jadi secara garis besar kualitas murai batu jawara harusnya lebih baik dari pacek biasa. Hasil anakannya lebih bisa diharapkan mengikuti spesifikasi induknya.

Meskipun demikian tidak ada jaminan bahwa 100% akan menjadi MB Jawara mengikuti bapaknya karena Yang diturunkan oleh ayah, kakek, kakek buyut dan nenek moyang MB bukan KEMENANGANNYA melainkan sifat-sifat dan karakter unggulannya. Perlu dipahami KEMENANGAN itu tidak bisa diturunkan. Tapi genetika jawara yang terkandung pada MB itulah yang membuat perbedaan nilai. Senilai sebuah harapan dalam memastikan bahwa genetika unggul itu tersimpan dan menjadi sebuah potensi untuk dikembangkan oleh juragan yang cermat. Untuk menyederhanakannya, samalah dengan kita tidak bisa terlalu berharap punya anakan MB berekor panjang (epan)dari sepasang indukan MB ekor pendek (epen) walaupun dalam beberapa kasus ada anakan pasangan MB epan keluar anak epen dan ada MB anakan epan dari pasangan indukan MB epen. Tapi penyimpangan tersebut biasanya tidak banyak. Kalau di MB lomba, selain didasari bakat yang berasal dari genetika faktor "skill" sang juragan juga merupakan penentu yang penting.

Karena menurut saya, menang itu adalah ujung dari jalan panjang upaya sang juragan dalam memilih bahan yang bagus untuk dirawat, dilatih dan ditemukan setingan lombanya. Yang jelas juragan yang berpengalaman pasti tidak memilih murai batu bahan dengan asal-asalan saja. Teori bahwa pacek jawara lebih berpeluang menghasilkan anakan jawara dibanding pacek biasa saja, sudah banyak yang membuktikannya sendiri. Makanya banyak penangkar yang memburu MB Jawara yang bagus untuk di tangkarkan walau harganya sangat mahal.

Murai Batu bahan yang kita beli di pasar umum memiliki 2 kemungkinan; anakan dari pacek jawara hutan/tangkaran atau anakan dari pacek biasa. Karena tidak ketahuan trah dan silsilahnya, maka hal seperti ini kita anggap saja sebagai kebetulan sehingga tidak layak dijadikan sebagai bahan untuk diperdebatkan.
Ada orang-orang tertentu yang mampu memprediksi karakter murai batu melalui ciri-ciri fisiknya (bentuk kepala, paruh, leher, body, ekor dan kaki) atau biasa disebut katurangga. Tetap saja buat kalangan level "master" ini, mereka akan lebih memilih murai batu dengan katurangga sesuai kriteria mereka tapi sebisa mungkin yang terpercaya trahnya. 

Buat saya pribadi dalam breeding MB, prinsip utama  yang harus di PEGANG TDK BOLEH KELUAR untuk breeding MB Lomba adalah harus dari trah burung bagus (sebisa mungkin dari trah juara), tidak mesti mantan burung yang juara yang kita ternak karena burung juara belum tentu menghasilkan anak yg juara. Indukan bisa diambil juga dari saudara si Jawara, atau anak betina si Jawara atau cucu jantan si Jawara tersebut.

Menurut DR. Wim Peters, berdasarkan pengalamannya burung yang kinerjanya bagus hanya mampu menurunkan sekitar 10-20 % anak bagus. (www.merpati.org)  

Menggunakan Indukan jawara yang jelas spesifikasinya dan jelas trahnya saja cuma bisa menghasilkan setidaknya 10% anakan yang bagus, bagaimana kalau kita pakai indukan yang tidak jelas spesifikasi dan tidak jelas trahnya? Jadi untuk breeder "Mulailah dengan bibit yang tepat dan ternak dengan metode benar, dan kemungkinan untuk berhasil menurunkan anakan yang berkualitas akan lebih besar".

Buat penghobi dan pemain pemula, mengawali hobi murai batu dengan murai batu hasil ternakan pasti lebih menyenangkan. Memang harga murai batu ring saat ini lebih mahal daripada murai batu hasil tangkapan hutan, tapi setidaknya akan mendapatkan kepuasan lebih  karena secara langsung ikut berperan dalam konservasi alam liar. Dewasa ini sudah banyak bermunculan peternak MB yang serius dan punya konsep berternak yang bagus. Tinggal pilih saja yang sreg di hati dan pas dikantong. Happy Hunting :-)

Monday, 16 March 2015

STUDI KASUS 4 : WAKTU YANG TEPAT UNTUK MULAI DIBAWA KE LOMBA KICAU

Kali ini saya akan membahas mengenai fenomena yang terjadi pada anakan Indukan BALROCK. Bukan pada karakter atau fisiknya, tapi pada kedisiplinan dan komitmen para juragan pemiliknya. Pasalnya pada setiap teman Kicau Mania pecinta murai batu yang datang dan meminang trotolan Ring Digdaya, saya selalu menghimbau agar nantinya sabar menunggu sampai mabung ke 2 dewasa sebelum MB ring Digdaya tersebut dibawa ke arena lomba kicau. Pada kenyataannya mayoritas juragan terutama yang tergolong pemula sudah gatal dan mulai menggantang murai batu tersebut pada usia dini, ABG saja belum yaitu pada usia lepas trotol di kisaran umur 7 - 12 bulan. Buat saya pribadi sebagai breeder jika murai belia alumni Padepokan Bala6 tersebut memang layak meraih piagam prestasi pastinya ikut senang dan bangga. Tapi kalau belum maksimal ya mau bagaimana lagi, memang sudah wajarnya seperti itu.
 Balrock , MB Sabang Bala6 Blorok
Kita sudah sama- sama tahu bahwa untuk mencapai kematangan tertentu pada individu murai batu jantan bisa berbeda-beda waktunya karena dipengaruhi oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Untuk tujuan lomba, beberapa senior player murai batu berpendapat bahwa kesempurnaan performa suara seekor murai batu jantan umumnya terjadi setelah masa mabung ketiganya, atau umurnya memasuki tahun keempat. Pada usia ini volume sudah bulat dan karakter suaranya sudah matang, amunisi lagu isian sudah beragam, dan yang terpenting sudah dewasa secara mental tanding dan naluri teritorialnya. Secara pribadi saya mengamati bahwa gaco asal muda hutan yang dibawa player Sumatera rata-rata punya usia diatas 5 tahun saat dibawa ke even regional dan nasional. Contoh yang paling ketara adalah SI KUSUT dan HAPPY BIRTHDAY yang menurut informasi mulai berprestasi gemilang diusia diatas 5 tahun. Tidak heran kalau jawara-jawara Sumatera punya performance relatif stabil di gantangan dan sangat bisa diandalkan untuk meraih prestasi di tingkat regional dan nasional. Untuk Murai batu Ring saya sangat mengagumi murai batu PUSAKA besutan master Andri Asmari yang sampai saat inipun diusia diatas 10 tahun masih stabil saat digantangkan.


Murai batu PUSAKA jawara asal Parisj van Java 

Kembali ke topik awal, entah kenapa khusus anakan Balrock, para pemiliknya seolah sepakat untuk sabar dan menahan diri sampai murai belia ini selesai mabung dewasa keduanya sebagaimana saran saya. Saya sendiri sebagai breeder pemula sangat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk menjadi saksi apabila teori kematangan usia gantang murai batu ini nantinya terbukti atau tidak, dan apabila memang terbukti, seberapa besar persentasi keberhasilannya. Pembuktian yang tentunya memerlukan waktu cukup panjang sampai ke rentang 5 tahun kedepan. Tapi setidaknya sudah ada modal awal dan jumlah sample yang cukup sebagai validitas riset sederhana ini.  Semoga sampai rejeki dan umur kita semua. Aamiin. 

DIGDAYA BAL 02 besutan om Sophian Handiana - Cikarang, Jawa Barat, Mulai Naik gantangan lomba kicau lokal di usia 20 bulan.
 
 DIGDAYA BAL 03 rawatan om Eswar Risaman - Pamulang Tangerang Selatan, Banten


 DIGDAYA BAL 06 harapan om David Wijaya - Bandung, Jawa Barat

DIGDAYA BAL 07 kepunyaan om Effendi  - Surabaya, Jawa Timur 

DIGDAYA BAL 11 klangenan  senior breeder om Soegiyarno, Giek BF - Cepu Blora, Jawa Tengah

DIGDAYA BAL 13 nyantren pada master player Mr. Harjo -  Cipete Tangerang, Banten

Friday, 27 February 2015

ERA MURAI BATU RING TELAH TIBA

Organisasi tertua dan terbesar dalam dunia perburungan Indonesia adalah  PBI (Pelestari Burung Indonesia) yang pada hari Sabtu 17 januari 2015 mengadakan Rapimnas berlokasi di Hotel Plaza semarang yang turut di hadiri Ketua Umum PBI Pusat Mr.Bagiya Rahmadi SH, Mr.Yono Plaza (Ketua PBI Pengda Jateng–DIY), Mr.Hartono Sragen (Penasihat PBI), Mr.Teguh Surabaya (Bidang Organisasi PBI Pusat), Aang Mulyana Bandung (Pengda Jawa Barat), Triatmoko Lumajang (Pengda Jawa Timur), Mr.Wahyu Tangerang (Pengda Jabodetabek), Mr.Fajar, Mr.Haryono, dan Mr.Wahyudi (Pengda Bali), Mr.Samuel serta Mr.Samsul Hadi/ Red Devil (Humas PBI Pusat) serta drh Andre dan Mr.Tharom Semarang (Pengda Jateng–DIY).
Hasil dari Rapimnas tersebut antara lain munculnya gagasan–gagasan sebagai berikut :
  1. Mengkampanyekan burung hasil tangkaran dan memakai Ring mampu berprestasi di gelaran lomba burung berkicau, sehingga bisa menumbuhkan rasa bangga serta bisa memiliki burung yang memakai Ring dan hal tersebut bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada para penangkar burung.
  2. Pelatihan dan Pendidikan khusus teknik menangkar burung khususnya Murai Batu dan jenis burung lainnya ditiap daerah atau Pengda.
  3. Pendataan para penangkar khususnya burung Murai Batu, serta memperbanyak minat masyarakat akan menangkar burung Murai Batu
  4. Dalam menyelenggarakan lomba, PBI berkomitmen memakai kelas Utama pada burung Murai Batu Ring dan ganjaran hadiah besar dikelas tersebut.
  5. Memperbanyak sosialisasi budaya menangkar kepada para masyarakat, sehingga bisa memunculkan harapan serta semangat para penangkar untuk terus bersaing dalam menciptakan kualitas hasil tangkarannya tidaklah buruk dari hasil tangkapan dihutan.
Hasil Rapimnas PBI 2015 ini langsung menjadi headline yang menghebohkan dunia perburungan terutama di komunitas hobi Murai Batu khusus lomba. Banyak yang shok dan kecewa terutama dikalangan akar rumput kicau mania tapi ada juga yang senang dan bahagia terutama para peternak dan penggiat konservasi alam liar. Kenapa? karena hoby memeilihara burung bisa dibilang sebagai hobi yang paling populer di masyarakat Indonesia yang merata dari kota sampai pelosok desa sehingga punya nilai sosiologis yang signifikan, semakin booming lagi dengan semaraknya lomba burung di hampir semua provinsi di Indonesia. Disisi lain intensifnya arus degradasi wilayah hutan asli yang terkonversi menjadi lahan perkebunan, pertanian, pertambangan, industrial dan pemukiman menjadi sebab rusaknya ekosistem hutan akibat pembalakan dan kebakaran hutan masif yang mengikutinya terutama di Pulau Sumatra yang sebenarnya merupakan surga keanekaragaman hayati beberapa burung asli endemik Indonesia. Nyata terjadi tekanan yang berat pada penurunan kualitas dan kuantitas habitat alaminya, sementara konservasi ex-situ (diluar habitat) yang terjadi pada jenis Murai Batu misalnya terjadi lebih pada dorongan ekonomi karena potensi nilai ekonomis yang memadai untuk dilakukan. Nilai ekonomis inilah juga yang mendorong eksploitasi Murai batu hutan Sumatra & pulau-pulau sekitar Sumatra menjadi lebih tak terkendali lagi dan menciptakan kelangkaan yang bersifat akut.


Mau tidak mau, suka tidak suka semua kalangan penghobi lomba Murai Batu harus siap dan sejalan dengan politik konservasi PBI ini yang juga tampaknya juga sejalan dan sudah menjadi agenda Even Organizer lomba burung utama lain seperti BnR & Ebod yang hanya akan melombakan Murai Batu Ring hasil penangkaran ex-situ pada saatnya. Iklim yang sangat kondusif bagi para penangkar untuk semakin serius dan terprogram dalam meningkatkan kualitas & kuantitas hasil tangkarannya. Minat menangkar juga sudah mulai merasuki kalangan yang luas : dari yang bermodal besar sampai yang pas-pasan ; dari E/O lomba sampai komunitas hobi Murai batu yang punya ring khusus dengan membentuk jaringan penangkar mereka masing-masing ; dari pemain kawakan dengan track record lapangan yang panjang sampai pemula bersemangat tinggi juga sudah mulai ikut menangkarkan Murai Batu. Sepertinya bakalan ramai ini lomba murai batu ring tahun 2017, E/O tidak usah khawatir akan kekurangan peserta.

Apakah dengan banyaknya penangkaran dan munculnya para penangkar baru maka kedepan harga murai batu tangkaran akan terkoreksi menjadi lebih murah? bila yang di lihat dari sisi penawaran/supply saja maka jawabnya adalah benar akan menjadi semakin murah. Tapi dunia hobi adalah sebuah anomali yang konsisten, karena sifat barang yang sudah menjadi kelangenan, maka orang cenderung membeli jika keluarganya, temannya, tetangganya juga telah membeli atau memiliki, dari sana biasanya muncul komunitas yang spesifik yang militan dimana berlaku genre marketing era social media yang sempurna dan komunitas-komunitas khusus  inilah yang kemudian menjadi generator pertumbuhan minat dan penghobi baru yang berarti konsumen baru, sehingga sisi permintaan akan mengimbangi atau bahkan akan melewati kapasitas penawarannya.  
KOMBAT, Komunitas Murai Batu Black Tail adalah salah satu komunitas di media sosial facebook yang mempelopori penangkaran murai batu dikalangan anggotanya.  

Jadi jangan heran nanti kalau makin banyak peternak malah akan makin banyak yang inden Murai Batu, atau buat pedagangnya akan berlaku semakin banyak yang jualan, semakin  antre panjang orang yang membeli. Yang terjadi adalah untuk supply mengikuti deret hitung  sedangkan demand lebih mendekati kepada deret ukur. Saya pribadi yakin percaya bahwa secara umum harga murai batu makin lama akan makin naik besaran nominalnya.

Tidak sependapat? monggo saja sih, nanti kapan-kapan saya sampaikan detail alasan pendukung pendapat saya diatas.
       

Thursday, 25 December 2014

INFERTIL EGGS (TELUR KOPYOR / TIDAK MENETAS)



Beberapa faktor harus diperhatikan dalam mencari penyebab telur yang infertil. Berdasarkan pengalaman kami di Padepokan Bala6 Jakarta dan beberapa referensi yang kami baca maka penyebabnya bisa terjadi dari salah satu faktor dibawah ini atau kombinasi beberapa faktor berikut;
  • Nutrisi:
    • Kurangnya asupan pakan yang mengandung Kalsium, Sodium dan Energy bisa berakibat langsung pada telur  yang tidak terbuahi sempurna. Penambahan kalsium lewat minuman atau makanan akan sangat membantu keseimbangan mineral untuk kesehatn reproduksi. Over supply nutrisi juga bisa mengakibatkan obesitas (kegemukan) yang disinyalir juga bisa menurunkan tingkat ovulasi telur disamping juga sangat berbahaya pada kesehatan murai batu secara umum. Penggunaan extra food yang bervariasi terbukti bisa meningkatkan derajat kesuburan. Penggunaan vitamin dan suplemen tambahan bisa juga dicoba. Awasi juga efek racun pada pakan yang bisa menyebabkan infertilitas.
  • Fisik:
    • Usia berkorelasi pada skill dan pengalaman murai batu di penangkaran. Pasangan muda biasanya perlu waktu untuk belajar dan menyempurnakan tehnik kawinnya dan tata laksana membuat sarang dan kedisiplinan dalam mengeram sampai sukses membuat telurnya menetas. Derajat keberhasilan telur menetas sangat dipengaruhi oleh faktor waktu. Makin awal dierami setelah dikeluarkan makin besar kemungkinan telur menetas. Disisi lain ada usia puncak produktif bagi betina petelur yang pada satu masa akan menurun dan terus menurun sampai akhirnya dia berhenti bertelur.
    • Adakalanya mencukur bulu sekitar kelamin jantan betina akan meningkatkan keberhasilan pembuahan dari murai batu.
    • Kesehatan indukan berkorelasi langsung dengan tingkat fertilitas. Kondisi indukan murai yang kurang fit mengakibatkan pembuahan yang kurang matang dan kematian embrio dalam telur. 
    • Penggunaan antibiotik yang berlebihan juga memungkinkan terjadinya infertilitas. Misalnya antibiotik yang menggunakan Doxycycline, yang umum digunakan untuk anti bakteria, termasuk jenis obat yang berefek pada penurunan kualitas sperma dan memicu tumbuhnya tumor organ reproduksi betina dan jantan..
  • Sosial:
    • Tatanan sosial di kandang dan siklus reproduksi perlu diperhatikan. Saat sudah berjodoh dan siap kawin, jantan akan berkarakter lebih agresif dan betina akan bersikap lebih paranoid terhadap gangguan dari luar kandang. Jika energi yang ada lebih banyak tersita untuk waspada dan mempertahankan teritorial, secara jangka pendek dimungkinkan sebagai penyebab turunnya kualitas dan kuantitas reproduksi pasangan tersebut.
  • Daya Dukung Lingkungan:
    • Temperatur yang ekstrim panas sering disinyalir sebagai penyebab utama telur kopyor/infertil. Ini memang sebab yang umum dan sifatnya sementara saja. Bisa ditempuh beberapa tindakan sebagai berikut. Memindahkan box sarang ketempat yang lebih ideal suhunya siang dan malam. Jangan sampai posisi kotak sarang terkena paparan panas matahari secara langsung. Posisi dan stabilitas tangkringan juga mungkin berpengaruh pada keberhasilan jantan menumpangi punggung betina saat kawin. Perlu juga diperhatikan kelembaban yang ideal karena kelembaban udara ternyata berpengaruh pada mudah tidaknya telur dipecahkan dari dalam oleh piyik pada saat menetas. 
  • Genetika:
    • Inbreeding (perkawinan sedarah) mempunyai efek yang bervariasi. Bisa berdiri sendiri atau kombinasi dari: menurunnya kualitas sperma, hasil tetasan yang dominan anakan betina, karakter/prilaku  individu yang tidak normal dan cacat fisik dan rendahnya daya tahan terhadap perubahan lingkungan dan penyakit.
  • Supranatural:
Percaya tidak percaya terkadang ada faktor non teknis yang menghambat kelancaran produksi. Diperlukan solusi  supranatural untuk sterilisasi lingkungan dari gangguan yang tidak kasat mata yang ternyata bisa sangat mengganggu ketenangan indukan dalam kelancaran produksi dan kadang berpengaruh pada kematian trotolan pasca panen.

Friday, 5 December 2014

BALANCING POWER - TEKNIK PERJODOHAN UNTUK MB JANTAN YANG GANAS

Bagi penangkar proses perjodohan Murai Batu adalah titik yang paling krusial sebagai penentu keberhasilan atau kegagalan menangkarkan pasangan murai batu. Murai Batu adalah burung yang bersifat sangat teritorial dan sangat fighter dan suka mengintimidasi lawannya tidak hanya lewat bunyi tapi juga secara bertarung fisik. Yang dimaksud lawannya adalah siapa saja yang masuk kedalam wilayah kekuasaannya. Murai Betina yang sedianya disodorkan kepadanya untuk di kawini bisa dianggap sebagai saingannya dalam menguasai wilayah dan pakan didalam kandang tangkaran. Pada Murai jantan muda hutan karakter peduli teritorial ini bisa bervariasi kadarnya. Ada yang ganas, ada yang toleran dan ada yang cendrung apatis atau cuek.

Murai batu jantan yang ganas sangat digandrungi pemain karena kadang-kadang dikorelasikan dengan karakter fighter yang hebat saat dilombakan. Belum tentu juga demikian sebenarnya berdasarkan pengalaman kami. Sering terjadinya KDRT sampai-sampai betinanya terbunuh adalah karena kurangnya pengenalan breeder akan karakter dan kesiapan fisik masing-masing calon indukan. Kami pernah punya beberapa indukan  Jantan yang ternyata sangat nakal dan melakukan KDRT pada si betina walaupun sudah dilakukan prosedur perjodohan yang sangat seksama dan cukup lama. Lumayan juga kehilangan investasi di murai batu betina yang dibunuh oleh si jantan nakal ini.

Salah satu guru dan teman baik kami di jaringan Breeder RING KOMBAT  yaitu mas Imam Iswahyudi yang juga seorang Kicau Mania senior pemilik YAQISA BF Harapan Indah Bekasi  mempunyai trik yang cukup ampuh sebagai solusi untuk masalah ini. Intinya adalah menyeimbangkan kekuatan jantan dengan betina saat perjodohan sehingga memberi waktu lebih banyak bagi kedua individu ini saling mengenal satu sama lain dan berbagi teritorial dikandang tangkaran (writing tresno jalaran soko kulino). Caranya adalah dengan mengurangi sejumlah bulu sayap si jantan. Bisa dengan cara mencabut atau juga dengan cara mengikatnya dengan benang atau isolasi.


Bisa dilakukan untuk 3 sd 5 bulu sayap yang diikat. Harapannya adalah si jantan tidak bisa mengejar saat berniat untuk menganianya si betina. Efeknya adalah si jantan akan susah terbang, sehingga ada baiknya kita antisipasi dengan menyediakan tangkringan, tempat pakan dan tempat minum di dasar kandang yang mudah di capai tanpa terbang. Setelah beradaptasi maka si jantan dalam beberapa hari kemudian akan mampu terbang lagi dengan kondisi sayap barunya. Setelah kondisi sosial di kandang lebih kondusif dalam artian jantan sudah bisa dan biasa berbagi wilayah dengan betina bisa saja ikatan sayap ini dilepas. Perlakuan khusus yang seperti ini kadangkala bisa berefek negatif kepada MB jantan. Bisa saja dia menjadi dendam kepada perawat/juragannya ditandai dengan suka mematuk tangan ketika si perawat mengganti tempat pakan. Atau bisa saja dendamnya di lampiaskan kepada si betina ketika dia sudah punya kesempatan.

Selamat mencoba.

Tuesday, 2 December 2014

JEBOL KANDANG PASANGAN PRODUKTIF YANG TIDAK BERPRODUKSI DI TEMPAT BARU


Metode jebol kandang pasangan indukan produktif dari peternak top kerap dilakukan oleh peternak murai batu pemula. Pertimbangannya adalah untuk memperkecil resiko kegagalan dengan menggunakan pasangan indukan yang sudah terbukti bisa berproduksi bagus dan menghasilkan anakan yang juga bagus kualitasnya. Hasil yang diharapkan adalah modal bisa cepat kembali dari penjualan anakan yang indukan jebol kandang tersebut. Metode ini sudah banyak yang menerapkan dan cukup sukses dibeberapa kasus seperti harapan awal. Tapi banyak juga yang harus menunggu cukup lama dan bahkan ada yang gagal sehingga pasangan indukan hasil jebol kandang tersebut harus dibongkar untuk ganti pasangan agar bisa produksi lagi. Atau bahkan harus dijual untuk menutup kerugian disertai rasa kecewa yang dalam.

Mengacu pada pengalaman kami sendiri di Padepokan Bala6 dan penuturan beberapa rekan breeder yang lain, kegagalan produksi dari pasangan murai batu yang tadinya produktif bisa ditelusuri dari berbagai sisi. Ayo kita bahas satu-persatu.

  • Nutrisi:
    • Apakah menu makanan yang diterapkan di kandang baru sama dengan menu makanan di kandang lama? Misalnya tadinya makanan utama adalah jangkrik alam/sliring kemudian berubah menjadi jangkrik kalung/genggong. Atau tadinya menggunakan kroto kemudian diganti menjadi diganti menjadi cacing atau ulat hongkong.  
    • Vitamin dan suplemen yang digunakan apakah sama dengan suplemen yang di gunakan di tempat lama.
    • Apabila ternyata setingan pakan dan vitamin serta suplemen tidak berubah, maka yang patut dicurigai adalah status kesehatan, perubahan kondisi lingkungan kandang dan faktor psikologis
  • Fisik:
    • Perlu diperhatikan kesehatan dari pasangan indukan yang beradaptasi dilingkungan baru. Untuk peternak berpengalaman maka cukup melihat tanda-tanda fissik dan prilaku hariannya akan diketahui murai batu yang sakit atau stress. Pemeriksaan sederhana di dokter hewan mengenai komposisi darah putih pada burung akan menjawab secara meyakinkan apakah murai batu tersebut sakit atau sehat
    • Khusus murai batu betina, terkadang berhenti produksi apabila salah satu ekornya lepas. Dia akan mementingkan asupan gizi yang ada untuk melengkapi ekornya dibanding menghasilkan telur. Untuk murai jantan ekor yang jatuh tidak terlalu berpengaruh pada kemampuannya membuahi.
    • Apabila sampai tahap murai betina sudah bertelur dan mengerami tapi telur tidak menetas. Bisa jadi masalahnya berasal pada murai  jantan yang tidak mengawini betina sementara betina sudah pada siklus produksi telur secara rutin.
  • Lingkungan:
    • Biasanya begitu pindah ke lingkungan baru maka perlu waktu untuk adaptasi. Sering terjadi sampai mabung sekali baru bisa beradaptasi dengan sempurna. Lebih sederhana bila kedua indukan mabung bareng. Yang repot adalah begitu sampai salah satu mabung dan yang lain tidak dan begitu yang satu selesai, pasangannya baru mabung. Lumayan bisa buang waktu 6 sd 8 bulan sendiri sebelum mulai produktif lagi.
    • Kondisi lingkungan biasanya sangat berpengaruh pada mood jantan untuk kawin. Jantan yang tidak nyaman dengan kondisi kandangnya cendrung tidak fokus untuk kawin tapi lebih peduli pada teritorialnya. Akibat yang ekstrim bisa terjadi KDRT terhadap pasangan betinanya.
    • Paparan sinar dan panas matahari, kelembaban udara perlu dicek dan direkam sesuai keinginan si jantan. Beberapa kasus yang kami temui ada jantan yang lebih tenang dengan kandang yang temaram dan ada pula jantan yang lebih produktif dikandang dengan cahaya berlimpah.
    • Kelengkapan fasilitas kandang juga ikut menentukan. Seperti: luas dan tinggi kandang, letak tangkringan, letak glodak sarang dan fasilitas kolam tempat mandi akan mendukung minat jantan untuk bereproduksi karena biasanya si jantanlah yang lebih banyak berperan dalam menentukan kelayakan fasilitas untuk betina dan calon anaknya.
  • Psikologis:
    • Murai batu adalah hewan territorial. Gangguan berupa bunyi dari murai batu lain bisa menjadi masalah buat sifatnya yang fighter. Biasanya ditempat baru selain adaptasi secara fisik dan lingkungan baru murai batu jantan juga harus menghadapai tekanan tatanan sosial baru ditempat yang asing. Termasuk menjaga harga dirinya dihadapan pasangan betinanya.  Murai batu saling mengintimidasi lewat kicauannya dan seperti layaknya di hutan habitat aslinya, dalam satu  area kandang penangkaran ternyata ada hierarki sosial juga dan diantara banyak murai yang ada, kita bisa rasakan siapa penguasa wilayahnya.
    • Apalagi kalau sampai dari kandangnya si jantan bisa melihat murai batu jantan lain. Bisa mengacaukan ritme psikologis si jantan dan berpotensi menjadi masalah besar pada keselamatan si betina. 
Jadi solusinya apa? 
Solusinya adalah kesabaran dalam mengamati karakter, prilaku dan kebiasaan murai batu kita. Ingat dalam berusaha itu tidak ada sesuatu yang instan. Ketelitian diperlukan dalam menemukan akar masalah dan problem solving yang tepat. Setiap makhluk hidup butuh adaptasi untuk lingkungannya yang baru. Yang jelas dengan jebol kandang breeder papan atas setidaknya memang jalan pintas untuk mengangkat pamor breeder pemula, tapi harus di ingat bahwa kita berurusan dengan makhluk hidup jadi tetap harus dilengkapi dengan modal kesabaran dan terus menimba ilmu lagi dan lagi.

Pasangan indukan Ring Digdaya hasil jebol kandang. Perlu waktu selama 6 bulan sampai akhirnya si betina mabung dan diganti pasangan jantan baru kemudian berproduksi 6 bulan kemudian, atau hampir 1 tahun kemudian baru menghasilkan sejak dibelinya.


Monday, 10 November 2014

BUYBACK TREND

Memang sudah masuk masanya, saat ini makin banyak murai batu hasil tangkaran yang menjadi kampiun di ajang lomba kicau lokal bahkan regional sampai nasional. Wajar, karena seiring dengan seretnya supply burung bahan terutama untuk jenis murai batu Sumatera yang makin langka maka Kicau Mania mulai berpaling ke murai batu ring hasil tangkaran. Player/pemain mapan seperti om Yudi Voltus bahkan sudah sejak lama hanya menggunakan mb ring sebagai gaco andalannya. MB Pelor Mas sang juara Piala Raja 2014 besutan team  H.Fitri BKS diketahui sebagai  mb ring juga. Belum lagi kiprah MB Hercules milik om Yadi Suzuki yang ternyata merupakan mb ring ternakan penangkaran beliau sendiri.


Bagai gayung bersambut trend ini tampaknya seiring dengan makin meningkatnya suhu persaingan di arena lomba kicau. Kicau Mania akar rumput dimanjakan dengan banyaknya event organizer yang tumbuh subur dan masing-masingnya rutin menggelar lomba kicau di setiap daerah di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan mulai merambah ke Sulawesi dan Nusa Tenggara. Dulu mungkin kita hanya mengenal E/O yang menggunakan pakem PBI dan Independen saja. Saat ini afiliasi dan organisasi penyelenggara makin beragam; ada BnR, ada EBOD, ada Kicau Mania.org dan beberapa group Facebooker yang memotori kegiatan yang indah ini. Tentunya kesempatan untuk tampil dan eksis sebagai juara juga semakin terbuka lebar. Level persaingan yang muncul juga makin tersegmentasi dan berjenjang. Ada kelas lokalan seperti  Latber rutin & Latpres terjadwal, Even regional, Even Nasional insidental  dan Even Nasional Tahunan. Intinya mau cetak mb jawara  bisa lebih cepat tidak sesusah dimasa lalu. Artinya dunia kicau mania makin marak dan makin banyak orang yang bisa bahagia dari hobbynya. Fakta yang positif ini berkorelasi dengan terus meroketnya demand akan bahan mb kualitas lomba. Saya teringat diskusi saya dengan om Syamsul Saputro pemilik SKL BF. Beliau mengatakan bahwa supply burung bahan ke pasaran tidak boleh hilang karena animo Kicau Mania yang demikian besar menuntut supply yang tak berkesudahan. Sebanyak apapun produksi trotolan dari breeder tidak akan mampu mengejar demand ini karena supply murai batu alami hutan Sumatera makin hari akan makin menipis.

Sejak duhulu breeder mengejar mb jantan jawara lapangan sebagai dasar membangun kualitas trotolan produksinya. Tapi saat ini saya melihat ada beberapa breeder senior yang sudah belasan tahun menangkarkan murai batu mulai lagi masuk ke arena untuk berburu alumni penangkarannya sendiri. Seperti ARCO BF yang mulai mengkoleksi beberapa anakan Raja Rimba, Matador dan Goldenboy. MR.DELTA BF misalnya juga mulai mengumpulkan anakan dari Rusia, Arjuna, Bima dan Songgolangit. Mereka memonitor anakan jantan ring mereka yang sudah malang melintang di arena lomba lokal dan regional untuk dibeli kembali (buyback). Ini dikarenakan indukan awal yang mayoritas merupakan indukan jawara asli hutan sudah mulai menurun produktifitasnya. Regenerasi dan ekspansi indukan sudah menjadi keharusan untuk mengejar indenan dari konsumennya. Pertimbangannya sangat masuk akal, ini karena mereka sudah sangat mengenal silsilah berikut karakter dari masing-masing ternakannya. Hal ini yang akan memudahkan mereka untuk percaya diri melakukan padu padan dengan betina trah simpanan mereka. Silsilah dan trah ini menjadi penting karena ada standar kualitas yang yang harus masuk kedalam kriteria mereka dan ada reputasi breeder yang harus mereka jaga. Disisi lain ada juga breeder senior seperti REJO BF yang menyimpan anakan Lodra, Monalisa, Kenthus, Salju, Andromeda, Poseidon dll untuk di jadikan indukan masa depan. Sementara itu saya amati dari indukan jebol kandang yang dilepas SKL BF, banyak yang sudah merupakan pasangan jantan dan betina hasil penangkaran sendiri 100%. 
Stock Simpanan Pejantan Ring Rejo berumur 6 bulan sampai 2 tahunan

Visi yang jauh kedepan ini juga diikuti oleh beberapa breeder junior dengan mengumpulkan indukan yang di beli sejak trotolan (jantan dan betina) jebolan breeder yang sudah lebih dulu mapan. Menarik sekali karena dikandang penangkaran merekalah terjadi silaturahmi genetika mb jawara antar blok timur, blok tengah dan blok barat lewat padu padan mb ring jantan dan mb ring betina asal breeder yang berbeda. Wajib ditunggu dan diamati kiprah anakannya diarena lomba. Patut juga disyukuri bahwa dengan makin mahalnya mb jawara kelas regional dan kelas nasional beberapa player murni mulai terkena virus breeding. Visinya juga sangat jauh kedepan, mas Khadavi dengan KDV STAR misalnya rela mencemplungkan koleksi mb jawaranya seperti Naruto, Zorro, Mistery, Sakuraba, Superboy , King dan HBD 27 yang rata-rata di take over dengan bandrol alaihim untuk ditangkarkan. Ajibnya tidak cuma satu tapi banyak, dan beberapa keturunannya terpantau sudah mulai jalan dan berprestasi dilapangan. Begitu juga Mr.Harjo yang mempunyai reputasi teruji sebagai pencetak banyak mb berkualitas kaliber nasional tidak segan segan untuk merelakan beberapa gaco andalannya seperti Megatron, Bhayangkara, Singa Edan, Jodi, Al Baqi, Madina, Sangkakala, Jalatunda, Jet Lee, Mahameru, Bromocorah  dan beberapa nama lain untuk dimasukkan kedalam program penangkaran agar bisa menurunkan genetika jawaranya. Tampaknya para player kawakan ini sadar apabila seekor mb jawara sampai mati tanpa keturunan maka yang kehilangan adalah seluruh jagad kicau mania penikmat burung berkualitas, bukan hanya pemiliknya saja. Jadi menurut saya dengan hadirnya orang-orang berfikiran maju ini maka masa depan lomba kicau di Indonesia tetap marak dan akan makin cerah dan makin berwawasan lingkungan. Kami dari DIGDAYA BIRD KEEPING juga sudah mulai mengumpulkan anakan RING DIGDAYA yang sudah moncer dilapangan untuk kemudian di tangkarkan di Padepokan Bala6 Jakarta.

Mr.Harjo dan Team KOMBAT bersama MB Malaikat Subuh

Saturday, 8 November 2014

STUDI KASUS 3 : POLIANDRI RISET GENETIKA BUNYI


Punya penangkaran MB sebenarnya lumayan banyak menuntaskan obsesi yang terpendam. Salah satunya keinginan untuk riset-riset sederhana. Kali ini yang menjadi objek yang menarik adalah mengenai mitos bahwa volume diturunkan secara genetis dari indukan betina.

 


Sesi Riset awal adalah terhadap Pejantan Nakula dengan level volume rata-rata dengan May Lady betina hasil tangkaran MR.Delta dengan volume tembakan terbaik di tempat kami (Studi Kasus 2). Dari pasangan ini dihasilkan beberapa anakan yang menunjukkan karakteristik volume yang juga kencang mewarisi sang bunda bahkan sudah terlihat sejak masa trotolnya. Salah Satunya Digdaya NKL 05 dengan nama lapangan Sendhekolo yang sudah mulai banyak menuai piagam lomba di usia lepas mabung pertamanya.Fakta ini belum bisa di jadikan referensi karena belum ada pembanding sebagai fungsi kontrol hasil. Si betina keburu mati sakit saat di jodohkan dengan Voldie, pejantan Nias dengan volume terbaik di tangkaran kami. 
Masih penasaran kebetulan saya punya 2 Jantan ekor panjang dengan karakter volume yang berbeda. Berusia sepadan sekitar 4-5 tahun dan sama-sama hasil tangkaran dan sama-sama berbody jumbo.
Young Gun (Ring Amiexs) punya volume super kencang dengan karakter ngebas sementara  Gurkha (F1 Sasongko) punya volume lebih tipis dengan karakter nyelekit. Keduanya bergantian di Padepokan Bala6 dikawinkan dengan 1 betina yang juga hasil tangkaran yang secara katurangga sangat ideal kesukaan saya yaitu



Ferlina (F2 Sasongko). Ferlina tidak Gacor tapi bongsor dengan level volume diatas rata-rata mendekati May Lady.Tidak banyak anakan yang dihasilkan. Setiap Pejantan diwakili oleh 1 anakannya saja yang jantan yang sengaja tidak kami jual untuk bahan riset. Dari pantauan yang kami lakukan sejak trotol terhadap Young Gun jr dan Gurkha jr volume mereka sama kencangnya dan terus konsisten sampai kondisi lepas trotolnya. Sampai sini apakah mitos itu sudah terbukti? Sementara mungkin.

Menarik juga bila saya perhatikan Gurkha Jr punya keunggulan daripada Young Gun Jr. Ini karena volume kencang dari ibunya berpadu dengan karakter nyelekit menekan dari bapaknya. Apakah Karakter suara ini secara genetis diturunkan dari indukan jantan? Belum bisa dijawab sekarang, harus dibuktikan dengan riset selanjutnya. Fakta lain yang juga perlu ditelusuri lebih dalam adalah apakah kecerdasan diturunkan dari genetika jantan? Menjadi menarik karena Young Gun Jr mewarisi kecerdasan ayahnya sementara seperti ayahnya Gurkha , DenPram (Gurkha Jr) varian isiannya tidak selengkap saudara tirinya, walaupun dibawakan dengan sangat faseh dan bening sekali isian LB, Cililin dan kapas tembaknya.



Selanjutnya sebagai kontra pembuktian kami akan mencoba riset dengan beberapa indukan Jantan yang kencang volumenya dipasangkan dengan betina dengan volume tipis. Baru-baru ini ada masukan dari teman breeder yang mengungkapkan bahwa beliau punya pejantan bervolume dahsyat yang dikawinkan dengan betina volume suara tipis, penuturan beliau hasil anakannya volumenya biasa saja tidak istimewa.  another little step further.

Saturday, 27 September 2014

MEMILIH JANTAN UNTUK INDUKAN PENANGKARAN MURAI BATU

Pembahasan mengenai indukan jantan untuk penangkaran murai batu trah tidaklah serumit kriteria indukan betina trah, karena indukan jantan yang bagus bisa sangat mudah dikenali lewat beberapa cara yang sederhana seperti dibawah ini;

1. Jawara Lomba Kicau

Jantan jawara lomba sudah teruji mental petarungnya, durasi kerja lapangannya dan volume suaranya saat digantang bersama MB jantan lainnya

Harus diakui bahwa mempunyai indukan MB jantan yang sudah punya prestasi sangatlah membanggakan dan sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai basic blood dari betina di penangkaran. Apalagi kalau kelasnya sudah bisa bicara di even skala regional apalagi even skala nasional. Trotolannya banyak dikejar untuk oleh para Kicau Mania yang berorientasi pada lomba dan kebanggaan memiliki MB lomba yang terbaik.  Diharapkan anakan dari MB jawara akan mempunyai mental fighter  yang diturunkan dari Indukan jantannya.

Publikasi media cetak dan media online bisa dipakai sebagai acuan dalam memonitor prestasi MB jawara


2. Trah Jawara Lomba

Anakan Jantan MB Jawara sangat mungkin mewarisi kehebatan ayahnya atau/dan  kehebatan kakeknya atau/dan kakek buyutnya.


Mengikuti teori  criss-cross inheritance: pola di mana sebagian besar sifat genetik induk betina akan menurun kepada anaknya yang jantan, dan sebagian besar sifat genetik induk jantan akan menurun kepada anaknya yang betina, maka cucu dari MB Jawara kemungkinan besar akan mewarisi kehebatan dari kakeknya. Tapi ada beberapa kasus dimana anakan MB Jawara juga menjadi jawara walaupun betinanya kualitas “biasa” saja.  Fenomena ini sering di istilahkan sebagai indukan “jantan nyetak”.


MB Ring Mr.Delta 379 Yang merupakan anakan MB jawara bernama Rusia



3. Katurangga


Katurangga adalah kondisi fisik khusus pada MB sebagai ciri-ciri ideal dari MB yang bagus dilihat dari proporsi bentuk paruh,  sorot mata, bentuk kepala, besar dan panjang leher , bentuk badan, bentuk kaki dan cakar, posisi berdiri , bentuk ekor, panjang ekor serta pola/corak ekor

Dalam pemilihan MB bahan, katurangga menjadi acuan utama. Katurangga adalah pendekatan empiris yang didasarkan pada pengalaman yang beragam. Karena awalnya semua KM berusaha mendapat MB kualitas terbaik berdasarkan pengamatan fisik  dan tingkah laku saja karena kebanyakan MB tangkapan hutan dipilih dalam kondisi belum bunyi saat masih berupa MB bahan. Misalnya saja
  • MB berparuh celah berhidung tembus dengan lubang besar diyakini mempunyai volume suara yang diatas rata-rata. 
  • MB Kepala papak dari depan dan bulat dari samping diyakini sebagai MB yang cerdas.  
  • Banyaknya  bulu tarung diatas paruh yang menandakan MB berkarakter sangat fighter. 
  • Mata yang tajam besar menantang mengindikasikan MB yang berani dan punya semangat pantang menyerah.
  • MB  berdada bidang cederung punya tenaga dan bunyi hentakan yang lebih kuat sementara yang berdada tipis mempunyai trecetan panjang.  
  • Mb dengan leher panjang pada kemampuan membawakan isian yang panjang. 
  • Kaki yang kokoh atau berposisi kaki berdiri rentang lebar punya kecendrungan untuk berpola main merunduk-runduk/hormat juri/sujud yang membutuhkan kestabilan saat berkicau. 
  • Posisi bilah ekor terpanjang rapat seperti pedang cendrung bersuara melengking sementara posisi bilah ekor pecah seperti gunting cendrung bersuara ngukluk dengan volume yang besar.
  • Dan banyak lagi penampakan fisik yang lain yg menjadi rahasia masing-masing player dalam memilih calon gaconya.



4. Usia MB Jantan Siap Tangkar

Syarat utama dari Indukan Jantan adalah sudah Gacor dan jinak (tidak takut manusia)


MB Ring Jantan berusia 1 tahun atau 1x lepas trotol sudah siap digunakan sebagai calon indukan. Untuk MB MH agak susah untuk di prediksi umurnya. Tapi MB MH berusia 3x mabung atau lebih bisa dilihat dari rongga mulutnya yang sudah lebih gelap dibanding MB yang masih muda yng masih dominan merah muda rongga mulutnya.
Pengalaman kami MB jantan lepas trotol lebih mudah dijodohkan dan lebih berproduksi dibandingkan dengan MB pada usia keemasan untuk lomba dikisaran 2 - 4 tahun. Yang juga mudah adalah MB yang sudah cukup matang di usia 5 tahun keatas. 


5. Kriteria Khusus berdasarkan kesukaan Breeder

Tiap breeder punya kesukaan masing-masing yang akan menjadi ciri khas dari anakan produksinya.


Tiap breeder punya kesukaan masing-masing yang unik dan kadang tidak umum terhadap karakteristik unggulan Murai Batu yang bagus menurut seleranya masing-masing dan ilmu yang diyakininya. Tapi secara garis besar bisa kita golongkan dalam 2 kategori, yaitu aliran LOMBA dan aliran KOLEKTOR. Aliran lomba biasanya kategorinya lebih unik karena ada yang mendasarkan kriterianya dari postur ( S, M , L, XL) atau suara (besar, melengking, nyelekit) atau karakteristik vokal (kering/kristal,  basah/kasar) atau dari durasi kerja (ngedur tanpa jeda)  atau dari gaya main (ngeplay, nagen, sujud, atraktif), atau dari variasi isiannya (variatif , monoton faseh berulang)dan beberapa kriteria lain yang sifatnya sangat pribadi. Sementara untuk aliran kolektor biasanya didasari oleh keunikan fisik atau asal usulnya. Seperti murai batu ekor panjang (24 cm up), murai batu blorok, Murai batu Balak, murai batu albino, murai batu habitat langka. Intinya layak dibanggakan sebagai koleksi karena kelangkaannya.
Murai Batu Balak 6 Ekor Panjang
MB Bule Koleksi om Budi Sentrasari Bandung